What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pieces of me
aku mencintainya.... sangat... kupeluk bahunya.... tersesak dadaku. dia bercerita... bertanya... tentang seragam biru-putihnya yang dulu.. yang mungkin kuingat.
aku memeluknya.... mencintainya... bertahun-tahun lalu, rahasia itu merasuk kedalam dadaku... tapi aku terlalu mencintainya.. hingga ku tak mampu berkata apa. biarlah dia tetap menjadi dia.
lalu datanglah raksasa dari masa kecilnya. menyentil keangkuhannya, memporak-porandakan rahasia yang bukan rahasia-nya lagi untukku, bertahun-tahun lalu. dia kini mampu menceritakan keangkuhannya... serta rahasia dibalik itu. dan aku memeluknya. kukatakan berahasia-rahasia perubahan pada dirinya yang kusemati dalam kalbuku, sendiri. sejak... dengan alasan yang masih serupa. untuk apa keangkuhan itu terlakon. satu rahasia. sejak dia ber merah-biru-putih, hingga dia bercelak bercinta. aku, mencintainya. apapun itu. i love her..
mayat-mayat itu sudah mengerak di buku-buku jari. aku berteriak terpatah di ujung jakun. bibirnya mengental di kulum serigala bergincu. malam-maalam tersayat sembilu bermadu... menghujat ke ubun-ubun berlubang...
aku berjalan terseok mengitari ritual diantara dua selangkangan dan nisan... dia mati setelah menggeriapkan serampak bulu pori-porinya di belaian hangat seorang yang berkepala penuh tanda strip, yang selalu sibuk dengan telunjuk.
tanganku, merentang.. langit, menjemputku. aku... melayang.... meraih ujung matahari. dan kamu, tertawa, bahana menari tor-tor dalam bayang kibasan rok bersayap permata. bergelimang kata-kata sutra, kamu, bernapas dalam udara yang kau lihat seperti emas...
kasihansayangmu, membunuh kamu, yang kamu. sayang.... aku, buta. tak mau melihat kamu yang tak jujur pada hatimu.....
dan kamu, mati bersama satu kata -yang kau kira adalah makna dari kata bahagia. ba. ha. gi. a.. dan kamu, mati sampai suatu ketika, kamu memohon-mohon untuk mengingat kembali tentang bagaimana itu rasa, dari, hidup. hi. dup..
kemudian terengah kau panggil namaku. ya. bila, saat itu tiba.
duduk terhimpit di jok sempit menjepit. mau kemana aku? kenapa ada dalam pesawat yang mesinnya menderung-derung aneh. lebih memekakkan dari pada bajaj mabuk. hujan petir menggila bak mampu memecahkan jendela disebelahku. mau kemana aku? pesawat ini maju mundur tidak karu-karuan. mau kemana aku? kenapa semua orang ini ketakutan? siapa mereka? pesawat apa ini?!! sempit dan tidak wangi. warnanya suram! entah apa namanya! terserah!! hey badai! coba diam sebentar! aku tidak mau kepergianku tertunda seperti ini..! dan... kenapa aku takut. dan aku, tidak ingin memeluk siapapun. bweh!!!
di awal perjalanan yang bahkan sudah kusetujui tanpa aku tau kemana...? astaganagagina...!!! aku tak melihat! aku tak melihat! atau aku buta??! akh! dimana aku. mau kemana aku.
tapi... pasti, aku akan berangkat. dan mati.
bersama pesawat ini. bersama orang-orang tak kukenal ini. baguslah. aku bisa gentayangan.
kisah seorang anak berkucir dua..... ia kehilangan sahabatnya. sebuah buku cerita usang. ditemukannya di laci rahasia, beberapa waktu lalu. kini hilang...... entah ingin merajuk pada siapa. dilukisinya tembok kamarnya dengan pastel hitam. tak kunjung pula ditemunya. sahabatnya...... hilang. ia, terdiam.
Dari dulu sy tidak suka hal2 yang sy tidak mengerti. Yang sy tidak tau. Sy pergi naik sepeda ontel keliling jokja malam2. benar2 marah krn 2 org yang sy sayangi pergi begitu saja tanpa menjawab kelakuan aneh mereka dan cerita menggantung yang menyangkut sy.
Pulang2 mereka sudah pulang dengan muka cemas bingung dan takut. Walaupun napas sy hampir putus dan betis serasa meledak dimalam pertama jadi pak becak dadakan, sy masih sok gagah berjalan tak mau lihat muka mereka yg seperti tikus pucat. Lalu sy jawab pertanyaan2 mrk seperti tidak terjadi apa2. lalu sy pura2 konsen dengan tipi diantara muka2 mereka yang masih pias. Lalu sy pergi tidur untuk siap diajak perang keesokan harinya. Tidak sekarang. Demi kebaikan kalian. Hmh.
Bbrp tahun lalu adik sy pernah bilang, “tapi tidak semua keinginan kita sesuai dengan kenyataan kan, kak…” lalu sy mulai belajar untuk tidak berkonfrontasi dengan diri sy sendiri. Menerima yg mereka kira tidak selayaknya sy terima-pun kok, malah, membuat org lain yang mencak2 atas sikap ‘penerimaan’ sy yg dinilai berlebihan.
Jadi, mau apa lagi? Tidak semua keinginan bisa tercapai. Tidak semua cita2 jadi kenyataan. Sepaling bisanya segini-gimanapun hasilnya, ya sudah. Nyantai saja…. Toh bumi tetap berputar di porosnya. Daripada pecah betis? Mau perang lagi, ya hayuk. Mau cium lagi, boleh. Tinggal saya aja lagi pengen yg mana ;) daripada melihat lagi muka2 tikus pucat. Aih… mengharukan. Harus bisa. ‘harus bisa sendiri. Semuanya’, kata ibuk. Itu dulu sih, waktu sy masih s.m.p pingin minggat2 krn sy kira sym mau dipingit, dipasung dijadikan mbak mariem ke 2. apalagi teringat saat2 cegukan menahan nangis. Sakitnya minta ampun tenggorokan. Krn kalo nangisnya bersuara, suara ibuk tambah menggelegar nyuruh sy diam-lalu makin gencar menunjuk2 huruf di buku alif-ba-ta waktu t.k itu. bagaimana sy ingat itu ba-fatah atau nun-kasrah kalo bernafas saja sulit. Berdosalah sy yg sempat menggunjing dg kakak sy mencurigai ibuk sy ibuk tiri. Apalagi waktu itu lagi ngetop2nya pilem ratapan ibuk tiri. Hiyy!! Ato ari hanggara hiy! Entahlah. Lupa. Hiiy!!! :D : =))
sudah... sudah habis waktunya. sudah. sekarang waktunya tertawa. apapun itu. tertawa saja. karena kadang tertawa tanpa arti pun punya alasan kenapa dilakukan. yang mendengar biar pening! yang terganggu biar makan ati! yang diam saja biar tersadar!
hidup itu bukan untuk bernapas diam diam lalu menelan debu debu itu tanpa aksi protes ini debu. debu. debu. sekecil apapun tetap dia itu ada. jangan pernah menganggap dia itu tidak ada. dan jangan pula membohongi dengan membesar besarkan keberadaan debu. debu itu ya tetap debu. titik.
tertawa saja sekarang keras keras! hisap debunya kuat kuat! biar penuh tenggorok biar mampat di paru paru biar meledak sekalian
lama sekali tidak pernah tertawa kuat dan keras apa karena lama sekali juga tidak pernah menangis? apa itu ada hubungannya? tertawa. menangis. semua bisa dilihat. apa yang tidak bisa dilihat? dirasa...? hhh.. itu pekerjaan hati sebeku apa sebebal apa sekeras apa hati orang orang yang seperti itu? permaianan tingkat tinggi,
hanya untuk orang orang bermuka kertas.
diam saja. hitam putih abu abu. semua mati. berdebu.
terimakasi teman-temaann... tetaplah menjadi kalian yang kalian... huugss!!!
seperti mendapat petunjuk dari langit!! tusukan belati itu jadi ukiran dahsyat di tubuhku. lillahita'ala. dahsyat!!! weits...! *bukan meggyZet!! awwas! blethak! pyar!!!
huaaaa.... terimakasi teman-teman. means a lot, lotta lotta hugs....!!!
nggak asik kamu! maka kubungkam kamu. bagaimana kamu membungkam, kubungkamlah kamu begitu. dengan caraku. c.a.r.a.k.u. see? biar kamu tau apa & bagaimana, itu, di. bung. kam. bukan hanya melulu mau membungkam. mem. bungkam. mem. mem.
garing... kamu sudah ter. lan. njur. garrrring. kamu sudah terbiasa dengan, dijilat, diendus, dielus. hingga kamu jadi. g.a.r.i.n.g. maunya gitu ya gitu. terus merajuk? halah....
sudahlah... tidak usah pura-pura basah & lembek. agar kamu nampak asik. cintai saja apa & bagaimana kamu, yang k.a.m.u. daripada kamu sendiri yang jadi linglung. sekali pembungkam, tetap pembungkam. tapi kita tetep bisa bersenang-senang dengan itu, kan...!!!! ??? hugs!!! whatever u'r .. susah ya enggak repot dan enggak jadi orang lain. ntar aku gendong dah... *sigh* manusia....
Sejak pindah ke kota itu, aku mulai tau membaca jarum jam, dimana letaknya dia waktu aku harus lari-lari kerumah oom joko, yang antar ayahku. Ayahku sudah berbau brisk dan mbak mariem baru mulai dengan pekerjaannya. Lalu ayahku menciumku sebelum ia melambai-lambai disebelah oom Joko yang ganteng itu. Tapi tidak lebih ganteng dari ayahku.
Di kota itu aku belajar menghapal di hari-hari apa aku harus menghitung berapa angka yang dilaluinya selama ibuku tidak dirumah. Lalu dihari-hari itu pula setelah makan siang, aku duduk berdua bersama ayahku menghadap ke jam dinding, seperti dua orang dungu. Aku berulang-ulang menghitung jumlah angka di jam dinding sejak ibuku berangkat. Ayahku tersenyum-senyum memaksaku ngaku kalo aku kangen ibuku. Dan aku tidak mengaku. Besok-besok juga ketemu terus. Berantem terus. Dimarah terus. Gara-gara yang nyapu mbak mariem semua. Nyapu??? aku kan masih kelas 3. Juga gara-gara eko bedarah di terowongan, bedarah di gawang. Gara-gara adi bejol, kepentok kolong tempat tidur ngambil robot2an atau gundu.
Eko dan Adi anak mbak Mariem. Mereka sering ikut kerumah. Eko ndlidis dan cengeng, menarik untuk dinakalin. Adi jail dan nurut, menarik untuk dikerjain. Apalagi adikku lagi doyan2nya kura2an ninja. Pulang sekolah pedang2an, tembak2an dalam terowongan parit kering depan rumah. Hidung eko nyungsep di semak bedarah nangis kejang2. Ato benjol nabrak gawang, ngejar layangan di belakang rumah. Adi menangis gundunya habis. Ibuku marah dahsyat. Aku tidak suka. Aku tidak suka waktu eko menangis, waktu adi menangis. Walaupun bajuku basah airmata dan keringat bau eko, lari2 seruduk sana-seruduk sini cari obat merah dan cari balsem, aku harus di marah. Adikku (07/5/2006 10:06 am) cuma didiamkan melongo dengan seragam kura2 bodohnya. Aku tetap dimarah biru pantat. Aku tidak suka. Aku kangen hari dimana ibuku harus berseragam dan pergi berjam-jam sampai aku harus duduk diam di atas paha ayahku, membacakannya buku cerita bergambar yang warnanya lembut-lembut, awan-awan, kertasnya mengkilap, memegangnya saja aku kesusahan. Memenuhi ketiakku. Lalu ibuku pulang, aku pun cepat2 berangkat tidur siang. Daripada keburu disuruh beneran, mending ngumpet di bawah bantal, main gundu dari adi yang aku menangkan.
Di kota itu aku kenal syahri sejak badanku jauh lebih tinggi sampai badannya jadi lebih tinggi. Sejak aku dibilang kesasar kalo masuk ke kamar mandi s.m.p perempuan, sampai aku benar-benar diperempuankan olehnya. Sampai sekarang, aku memang benar-benar perempuan.
Sampai sekarang, aku masih ingat mbak mariem, eko, adi, oom joko. Karena mereka aku belajar. Banyak. Aku mengerti kenapa mereka lebih boleh cengeng karena kotak mereka yang berbeda. Ibuku secara tidak langsung bilang begitu dari marah dahsyat-nya itu. Karena aku yang tidak pernah mau ngalah, apalagi selalu ngajari, dan ngajakin yang enggak-enggak. Sayangnya aku tidak mau melihat kotak-kotak itu. Tidak ada kotak. Pukullah aku kalau aku memukulmu. Salahkan aku kalau aku salah. Benjollah kamu, kalau kamu tau itu kolong dan berdiri sebelum waktunya. Jangan menangis. Bedarahlah pelipismu, kalau kamu mau dapat layangan putus tapi ngejar tak liat jalan. Jangan menuding. Andai saja tidak ada pengkotak-kotakan.
Untuk apa marah ibuku yang dahsyat itu. Untuk apa…? Kata maaf untuk diulang lagi adalah kebohongan. Hari itu aku enggan minta maaf. Nantinyapun aku lupa. Maaf apa. pantatku masih biru2. Mending aku diam saja. Pergi kekamar dan berteriak pada dinding membuangi lipatan2 baju dilemariku ke seluruh lantai. Mbak mariem sibuk dan ketakutan menangkapi baju2 beterbangan. Aku semakin hebat menggempur-gempurkan kakiku ke lantai. ‘jangaaaannn! Aaaa…! Jangan diambiiilll! Biaaarrrr!!! Biaarrrr… Biaar mbaaaakk……! Lalu aku terjongkok di depan pintu lemari yang morat-marit, habis akal melarangnya, “hmbaaaak… hjangaaann, hjangan eghg..! hjangaannnh…nnnh…nhh. nnh. nnhh…! hjang. hngan. hdi. hdi.. diammm..hmbiiiill…” aku terisak-isak sampai kerongkonganku mengeluarkan bunyi aneh dari genjotan di ulu hati. Lalu mbak mariem mendekatiku. Ia mencoba menghapus airmataku. Aku menutupi mukaku. Ahirnya mbak mariem cuma bisa mengelapi air mata di tangan dan pahaku, ‘udaaahhh… udaaahh… eko ndak papa kok…ssshhh… sshhh…cep,cep…”
Tapi aku tidak peduli, "hjanggannnhh…hdi…hhnndiammm,mbilll…jangandiii… hmm,hm,mm,mmm..mmm…” Mukaku semakin tenggelam ke dalam leher bajuku. Lalu mbak mariem bosan dan pamit pergi. Aku tertidur diatas baju2 itu berleleran airmata. Hhhmm,mm,mm… Untuk apa maafku itu. Kenapa ibuku benci sekali padaku? Salahku apa… Apa yang harusnya tidak aku ulangi? Untuk apa ibuku marah? Kenapa ibuku marah? Ahh. hhh… aku capek……bukan, yang marah bukan siapa-siapa. Yang ada disini bidadari dan malaikat. Lalu suara angin makin jauh saat missy mendekat dan tiarap menempel dibokongku yang meringkuk. Ekornya menyapui punggungku. Lalu aku tau ibuku datang mengusap poni dan tengkukku yang berkeringat. Pelan sekali. Ia pikir aku sudah tertidur. Ia tidak marah. Ia tidak pernah marah. Ia tidak membenciku. Aku bidadarinya. Aku selalu bidadarinya…selalu...
aku bahagiaaaa... sekali kalo dia ada disini... mmmmuah! mwah!! mmmmmuahhh!! gak tau kenapa.... rasanya... mmm... rasanya.... hhhhuaaahhh... dadaku legaaaa sekali napasnya.... eeghhh... gemes..gemmmes...gemmmess..... awo. arwin gendruwo...hiyahiyahiyaaaa...igh!!! gemes!!!
kita di temukan sekarang. disini. jika dua tahun lalu, 11 tahun lalu, sehari kemarin, atau dua jam lalu... atau besok, kita tak akan begini jadinya. karena kamu tidak kamu yg ini. aku bukan aku yang ini. dan mana aku peduli padamu. mana kamu peduli padaku. lalu kita hanya selewat bersentuhan ujung bulu di antara kursi-kursi kedai kopi itu. melihat ikal ujung rambutmu di karet seribu tiga'an, kamu melihat ujung hidungku yang berminya sehari tak mandi.
jika ditemukan kembali pun di suatu ketika entah, tidak akan ada cerita. dan entah cerita apa lagi, besok, dua bulan lagi, setahun kedepan...? who knows..???
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma mengajaknya ketawa waktu aku mencubiti bagian kecil ditubuhnya yang tidak terbakar, barangkali ia sedikit lupa pada perihnya obat yang sedang dioleskan ke luka-luka di sekujur tubuhnya itu. Segala kertas2 dan koran2 di kipaskan di atas luka itu. aku menggodanya. Menceritakan kebodohan2 aku dan Ibuku yang mungkin masih ia ingat. Kebodohan adikku, kakakku atau ayahku. ibuku tertawa… ia menggumam dan sedikit mengangguk-angguk. Ia ingat ceritaku. Gumamannya antara tertawa dan mengaduh. Ah, tapi ia tertawa.. tertawa-tawa padaku. Ia tertawa melihat muka monyetku… airmatanya menetes-nenetes hanya karena por-porinya terpedih. Bibirnya kerut2, menahan perih di kaki dan tangannya. tapi ia tertawa, tertawa melihat ke mataku. Mata monyetku.
Aku juga tertawa. Aku tertawa melihat ke matanya. Melihat ke matanya yang tinggal segaris. Air matanya bukan seperti air mata yang di balik pintu kamar waktu itu. waktu aku yang masih t.k. aku tau. aku juga tau, dulu dan sekarang. itu tetap airmata dari orang yang sama. ibuku.
Lalu aku termenung di teras memandangi kaki-kaki pengunjung rumah sakit berseliweran. Aku tidak mendengar suara apapun. Telingaku jadi tuli. Kupandangi airputih di tangan kananku. Dan tiga tetes air mata di pergelangan kiriku. Ibuku sudah tertidur, setelah satu jam ia terus tertawa sambil menyembunyikan erangan kesakitannya di pangkal lidah. Ibuku tidak menangis. Bahkan waktu teman2nya menangis menjenguknya.
Aku tak pernah ingat, sejak kapan aku jadi bisa melihat darah dan nanah. Aku tidak mau pingsan. Bahkan ibuku tak pernah pingsan sedetikpun sedari kejadian itu. Kupandangi rambut ibuku yang tinggal seserpih. Aku ingin mencium keningnya. Tapi ia nanti bisa kesakitan. Maka aku cuma berani memandanginya. Tenggorokanku mulai sakit lagi. Mataku mulai kabur lagi. Sebaiknya aku jalan-jalan ke teras lagi. Ibuku tak menangis. Maka aku pun tidak.
Malam ini seperti malam-malam kemarin Cuma ibuku yang masih menungguku pulang menjelang tengah malam. Lalu tersenyum pada muka jelekku. Pada kelopak bengkakku. Menjawab salamku dengan nada di lurus-luruskan. Membelalakkan mata merahnya memandangi langkah2ku. Ia tadi terlelap. Aku tau. Dan ia selalu ketawa-tawa waktu kupaksa mengaku bahwa itu memang sudah lewat dari waktunya ia masuk ke kamar, dan tidur. Jadi, akulah yang mengganti taktik. Aku pamit tidur dan menutup kamarku, ia pun akan masuk 5 menit berikut. Walaupun aku akan melotot dan mundar mandir lagi bikin kopi di dini hari, ibuku sudah tidur dengan benar.
Aku tidak pernah dibelanya. Ayahku lebih sering dipihakku. Dalam segala hal yang aku lakukan. Aku bahkan selalu bicara keras tentang pihak-pihak yang lebih dipihakinya, yang kemudian selalu membuat tekanan darahnya nya sendiri yang naik. Ibuku tidak pernah darah tinggi sebelum pembongkaran tangannya yang terahir berbulan lalu. aku belum ketemu cara, apa dan bagaimana supaya dia tidak terpikir dan memikir pihak yang bikin dia darah tinggi itu. Selain bicara keras, aku belum mampu cara lain. aku belum sepintar itu. Maka sekarang aku diam. Ibuku pasti memaafkanku. Ia ibuku. Ia ibuku. Diwaktu2 ia perlu, masih namaku yang dipanggilnya. Dan waktu kepalaku pusing, tangan bengkok-bengkoknya yang memijit tengkukku. ia bertanya bolehkah ia membiarkan tangannya sampai segitu saja. aku ingin menangis. aku tidak menangis. aku menindihnya saja. Nyamannya masih sama. Biarpun tidak bentuknya. Biar segitu saja. Tidak ada yg menjamin saat ia sepenuhnya tidak sadar, dengan tangan diobrak-abrik, apakah ia akan bertahan dan membiarkan dirinya tetap bersama kami. bersama aku. menungguku di hampir tengah malam. ibuku. *120608 – 03.49 am.
Waktu ibuku diledakkan kompor gas, waktu itu, lalu duniaku berputar. Berputar-putar. Ayahku tidak seramah biasanya. Lalu aortanya harus diganti dengan plastic atau entah, yang buatan manusia, entah di singapur, spanyol, belanda, swedia, portugal, turki, kroasia…ah tau apalah itu. Aku tak mau ingat, yang jelas, yang sangat teringat, bagaimana sejak saat itu setiap pergi ke supermarket, setiap merk shampoo dan sabun dan kawan2nya itu, aku harus membandingkan tiap rupiah per milinya. Bukan lagi nama merknya, tidak boleh lagi ada es krim blab la bla. Yang sangat teringat sejak saat itu, aku tidak berani lagi menatap wajah teman2 ku dengan dagu datar jangankan terangkat.
Aku tau ayah bukan harus dioperasi ganti aorta. Ia hanya kaget ternyata selama ini ibuku bekerja sangat berat. Mungkin lebih berat daripada yang ayah hadapi dikantornya. Dari menghitung segala rekening, sampai menengahi kekeraskepalaan suami dan anak2nya.
Kuingat waktu kecil dulu pintu kamar sering tertutup. Dan kudapati ibuku menangis dibaliknya. Aku tak tau harus berkata apa. Kuelusi saja punggung tangannya dengan ujung2 jariku takut ia tambah menangis, karena barangkali disitu sakitnya yang bikin ia menangis. Walaupun aku tau hatinya yang sakit.
Lalu ia tergeletak 6 bulan bersprei daun pisangmuda yang masih tergulung, dilebarkan dan dibersihkan dengan alcohol. Agar punggungnya yang tak berkulit bisa sedikit beristirahat dan aku tidak melihat air matanya menetes-netes di pagi dan sore, saat ia harus didudukkan untuk mengoles obat dipunggungnya itu. Sebelum obat2 itu menyakiti dagingnya, sprei2 itu lengket di nanah dan menyakitinya. Walaupun ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, aku hanya mencoba tau dari kerutan di bibirnya dan airmata tanpa isakannya. Karena wajahnya pun tidak lagi kukenal saat itu. Tapi ia tetap ibuku.
Kuselimuti ia dengan kain kain panjang khas nenekku, kupikir mungkin dengan begitu, dia bisa merasakan kenyamanan seperti kenyamanan yg aku rasakan waktu aku demam tidur di pelukannya.
Lalu ulu hati ayahku mengeras dan membengkak. Ia bertanya, apa dosanya hingga ibuku jadi begitu. Aku tak menjawab. Aku bukan Tuhannya. Aku tidak pernah menangis. Aku tidak boleh menangis. Di kamar itu. Tapi aku marah sampai menangis. Hidungku penuh ingus hingga tak bisa bernafas. Aku marah pada suster. Ibuku tidak bisa juga pakai sedotan! Bibirnya bengkak, berair dan pecah! Tidak bisa bergerak! Alis dan bulu matanya sudah tidak ada. Bola matanya tertutup kelopak bengkak yang penuh air kecoklatan kalo di sedot pakai suntikan… ah… bahkan aku tak tau mana batas kelopak, kening, hidung…pipi.. ibuku. ahhh!!! Aku butuh sendok!! Sendok kecil! Ibuku harus minum. Ia cuma terbata bilang, “…dek…panas…” Aku cari sendok! Sendok kecil! Aku cepat berjalan ke dapur rumah sakit. “suster, minta sendok kecil, ibu saya tidak bisa pakai sedotan.” Suster itu melongo dengan wajah ngantuk dan bingung. “Ya, tolong carikan sendok kecil…atau.. apa sajalah.” suster itu masih melongo lalu terburu-buru gugup mencari-cari --mana? Rumah sakit macam apa ini!!!?? Sendok saja tidak punya!!! ibuku haus!!! Tau!!! Apa??? Hah??!! Heran liat saya??!. Ya! Saya menangis cuma karena sendok! Tau!?-- Kata kata itu cuma jadi ingus yang memampatkan hidungku. Aku melorot di tembok dapur itu. Ibuku memang tidak bilang ia haus. Berbicara saja dia tidak jelas. Bahkan menangispun ia tidak…. Mana… mana sendoknya.. berikan sama saya…. Aku terduduk memeluk lutut yang jadi basah. Tiba-tiba aku merasa rindu waktu ibuku marah-marah karena aku tidak bisa potong cabe waktu SMP.