| |
dansa's posts with tag: menyuplik merenung
aku dikelilingi orang2 yang berpikir rumit. apakah aku yang keterlaluan sederhana. ato aku yang sok sederhana? ato aku yang dulu pernah seperti orang2 itu semua. ato aku yang bikin gara2 hingga mereka menjadi orang2 seperti itu? ato bahwa sebenarnya akulah yang rumit. bisa jadi aku aja yang sekarang jadi utopis. ato lagi, ada yang membangkitkan aku jadi demikian?
demikian sederhana & jelas. demikian tidak jelas & tidak sederhana? 'akh! seperti mencari ketiak ular aku'
mencintainya. dan tau pula aku harus untuk tidak melakukan apa-apa atas kemasihan itu. hidup harus berjalan. di belahan lain. so, cu on another beautiful friday nite in this circle of amazing mysterious life. -anw, misterius pulak, telat seminggu baca surat2 yang buat saya, padahal surat2 yang tidak buat saya indeed, saya tanda2in untuk dibaca sekilas lalu dihapus-
seperti halnya ada saat pertama seseorang menggosok - gosokkan dua batang kayu untuk membuat api, maka ada saat pertama pula orang merasakan suka cita, dan saat pertama orang merasakan kesedihan. untuk beberapa waktu lamanya, berbagai perasaan baru diciptakan. hasrat terlahir lebih awal, begitu pula penyesalan. ketika kekeraskepalaan pertama kali dirasakan, hal ini menimbulkan reaksi berantai, menciptakan perasaan marah di satu pihak, dan perasaan jauh serta kesepian di pihak satunya. mungkin kelahiran perasaan gembira yang meluap - luap timbul dari gerakan pinggul tertentu yang berlawanan dengan jarum jam; gelegar halilintar menciptakan perasaan takut bercampur takjub yang pertama. berlawanan dengan logika, perasaan terkejut tidak lahir secepat itu. perasaan ini muncul setelah manusia cukup lama terbiasa dengan segala sesuatu sebagaimana adanya. ketika seseorang merasakan perasaan terkejut yang pertama, ada orang lain, di tempat lain, merasakan sentilan perasaan nostalgia yang pertama.
kadang2 benang sepanjang apapun takkan cukup untuk mengatakan hal yang perlu dikatakan. dalam hal demikian, yang bisa dilakukan benang itu, 'apapun bentuknya', adalah menyalurkan keheningan orang tersebut.
seperti peristiwa kecil dan tidak penting yang menyulut bencana alam di setengah belahan dunia lainnya. _SC; krauss_
dan sambil kami berbicara, kulepaskan satu persatu jemariku yang menggendongnya, hingga tanpa dia sadari dia sudah mengapung - apung tanpa bantuanku. lalu pikirku; barangkali itulah arti menjadi ayah---yang mengajari anakmu hidup tanpa dirimu. kalu benar begitu, kehebatanku bertindak sebagai ayah tak ada yang menandingi. dia tampak beda dari yang kuingat. tapi. sama. matanya: dari situlah aku mengenalinya. pikirku; jadi begini rupanya mereka mengirim malaikat. dihentikan pertumbuhannya pada usia saat dia paling menyayangimu.
apa yang bisa dilakukan pikiran saat hati yang menjadi penunjuk jalan?
| | |
|
|