What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag horror
mayat-mayat itu sudah mengerak di buku-buku jari. aku berteriak terpatah di ujung jakun. bibirnya mengental di kulum serigala bergincu. malam-maalam tersayat sembilu bermadu... menghujat ke ubun-ubun berlubang...
aku berjalan terseok mengitari ritual diantara dua selangkangan dan nisan... dia mati setelah menggeriapkan serampak bulu pori-porinya di belaian hangat seorang yang berkepala penuh tanda strip, yang selalu sibuk dengan telunjuk.
tanganku, merentang.. langit, menjemputku. aku... melayang.... meraih ujung matahari. dan kamu, tertawa, bahana menari tor-tor dalam bayang kibasan rok bersayap permata. bergelimang kata-kata sutra, kamu, bernapas dalam udara yang kau lihat seperti emas...
kasihansayangmu, membunuh kamu, yang kamu. sayang.... aku, buta. tak mau melihat kamu yang tak jujur pada hatimu.....
dan kamu, mati bersama satu kata -yang kau kira adalah makna dari kata bahagia. ba. ha. gi. a.. dan kamu, mati sampai suatu ketika, kamu memohon-mohon untuk mengingat kembali tentang bagaimana itu rasa, dari, hidup. hi. dup..
kemudian terengah kau panggil namaku. ya. bila, saat itu tiba.
nggak asik kamu! maka kubungkam kamu. bagaimana kamu membungkam, kubungkamlah kamu begitu. dengan caraku. c.a.r.a.k.u. see? biar kamu tau apa & bagaimana, itu, di. bung. kam. bukan hanya melulu mau membungkam. mem. bungkam. mem. mem.
garing... kamu sudah ter. lan. njur. garrrring. kamu sudah terbiasa dengan, dijilat, diendus, dielus. hingga kamu jadi. g.a.r.i.n.g. maunya gitu ya gitu. terus merajuk? halah....
sudahlah... tidak usah pura-pura basah & lembek. agar kamu nampak asik. cintai saja apa & bagaimana kamu, yang k.a.m.u. daripada kamu sendiri yang jadi linglung. sekali pembungkam, tetap pembungkam. tapi kita tetep bisa bersenang-senang dengan itu, kan...!!!! ??? hugs!!! whatever u'r .. susah ya enggak repot dan enggak jadi orang lain. ntar aku gendong dah... *sigh* manusia....
lalu perempuan itu cemburu. Lalu perempuan itu merasa tak cukup indah. Lalu ia menyaru, bertopless dan berparfum mengundang birahi, Memberi sesloki ramuan perangsang, Sembari merajuk manja dan menggemaskan. …sebentar lagi terbeber semua cerita dari laci hati tersembunyi si lelaki.
Tak berhasil, perempuan itu menggelarkan kalimat sakti serupa stamper bulldozer digdaya jaya, Nan membentuk jemari halus membelai. Tepat seperti diinginkan si lelaki.
Si lelaki kocar kacir. Tak ketemu tempat berhenti untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan saja. Membicarakan apa yang ingin ia bicarakan saja. Napasnya sesak terus dibuntuti di jalan yang makin sempit gelap menuju lobang tempat ia menaruh laci penyimpanan harta rahasianya. Hatinya.
Tidak ada pilihan. Maka ia berbalik. Menubruk perempuan itu. Menghujatinya dengan pujian dan ciuman. Pujaan dan kekaguman atas keindahan jiwa dan rasa yang katanya, Hanya perempuan itu saja, yang punya. Mesin penggiling berbentuk rayu dinyalakan.
Perempuan itu bahagia. Sudah ditemunya isi laci rahasia lelaki itu. Dia tersenyum. Bahagia. Lepas semua kecemasannya. Ternyata hanya dialah yang sungguh satu. Ternyata selamatlah si lelaki.
Lelaki takut perempuan berduka. Lelaki takut perempuan berkecil hati. Setelah sekian banyak derita perempuan… Ia-lah lelaki penyelamat.
Lelaki tak sudi di anggap tak mampu mencinta dengan hati. Tak sudi dilihat tak mampu berkorban-mengakui-menerima kearoganan, yang melebihi dia sebagai ‘lelaki’. Demi kata cinta sudah terlanjur terucap berentet seperti peluru nasar.
Lelaki tak sanggup menyakiti demi berkata ‘benar’. Demi cinta ‘asli’. Demi kelanjutan kesenangan dan kemudahan. Perempuan taksudi mengaku menyerah hanya karena di’bohongi’ Perempuan tak sudi dianggap bukan yang paling ‘indah’
*buat apa jem…??? Sampe kapannn…? Errrghhh… sigh sigh sigh…*
Akh! Sudahlah! Stop bicara! Kenapa tidak kau panggul saja papan tulis. Kantongi kapur tulis. Jangan lupa galah penunjuk. Ajari saya mengenal huruf. Diktekan saya ‘ini ibu budi’. Keluarkan sempritan waktu mencongak perkalian. Betulkan cara saya memegang pensil sekalian! Selamat malam saya pulang. Teman sebangku saya sudah terngompol-ngompol minta pulang. Bahkan dia tidak perlu alat gumalat itu untuk mengajari tentang perbedaan; Berbagi dan berguru. Juga tidak perlu repot gumopot mencopot muka gendruwonya itu. Cuma butuh hati seperti kapas sebening kristal. Indeed. Uwauwauwaaa…. Ngik! Ngik! bu guruu.. bu guru. pak guruu, pak guru. okeyhh... loveyou still anw, whatever it happens. mending bubarkan saja sekolah-sekolahan ini. ngantuk..! elusan dan kecupan, jajanan yang selalu ada dan sama. aaaw..??! mari pitak umpet tembak2an sj lebih menggairahkan. ada ide lain? wooo terbang layaaang.. aku memelukmu di udara hyaa...! bercinta mabuk parasut!!!
Mencium dengkul yang tertekuk rapat ke perut. Angin api keluar dari punggung. Asapnya merubung tengkuk, muka hingga ketiak. Bahkan betisku basah keringat lengket ke paha. Jari jari tidak berasa lagi. Gelap….. berisik diluar sana. Amis…. Anyir…. Suara kuda meringkik-ringkik, suara rantai dan lonceng becak berseliweran dibelakang kepala. Dari segaris lubang aku melihat warna-warna celana dan rok manusia malang melintang di luar sana. Tiba-tiba lubang itu tertutup. Rapat keliling. Dan napasku makin terbakar. memecahkan dada. Tak ada lagi udara. Mereka menyelotip semua rusuk kardus ini. Sepertinya aku berada di tengah pasar kampung. Dalam kardus rokok, entah mau dibawa kemana. Dan ini benar benar… Sesak sampai ke ubun-ubun. Pasti sebentar lagi aku pingsan..! Hidungku sudah berdarah. Kental. Hitam.
selalu ada, yang membungkus tubuhnya dengan warna merah. Menusuk. Berdarah. Tidak pernah dari muka. menggerogot dari dalam. atau dari balik layar, lalu sembunyi jadi putih saat patroli datang, mengilapkan tubuhnya hingga pemimpin patroli kesilauan, terlongong-longong, lalu mati terkangkang lena. kemudian dia keluar bertepuk dada saat suasana aman. bahwa dialah sang penyelamat. ..menanti tatapan terpesona dari para penonton yang membuat dia menggelinjang!!!
lalu dia berubah jadi abu abu. berbulu masai menjilati para petinggi dengan lidah celurit! mencacah para naif, ditinggalkannya cecer darah di tembok. ditambalnya dengan kertas emas saat para petinggi datang menjenguk, menjawab yang tidak ditanya dengan menggelontorkan gulungan daftar tanda jasanya dengan format 'quotes', berstriptease mendemokan kepiawaian curian.
menyelotip bibir dan hidung para saksi. memperkosa ukiran yang sudah dibuat dengan sepenuh daya dan hati. menindihnya dengan ukiran lain, setengah jadi, busuk. sampah. lalu ditinggalkannya begitu saja sembari menggerayang saku orang untuk menyimpan bukti.
lihat! sekarang dia jadi merah jambu! menenteng kepala penjagal, mengepit kuburan di ketiak...!!
Lalu ia berlari meninggalkan semua suara yang mencekik lehernya bahkan yang memohon mohon di tumitnya. Bergaung gaung menanyakan dengan pedih ke telinga hatinya sebuah pertanyaan yg sama dari dalam tubuhnya sendiri. Dan tidak mampu ia jawab. Lalu… apa yg harus diverbalkannya demi menghentikan erangan tanya yang membabi buta sampai ke tidur dini harinya itu?
Jika matahari besok adalah mengikuti jam tangan di pergelangannya yg dapat dia putar putar tombolnya sesuka ingin, Jika bintang bintang nanti malam menunggu isyarat siulannya untuk dimana menghamparkan diri di lelangit… Siapa dia? ia bukan siapa siapa… jadi kenapa tidak berhenti menumpahkan semuanya padanya…sedang ia pun tak mengerti bagaimana menidurkan kepanikannya sendiri.
Itu DIA! Itu.. itu DIA… lihatlah. Diam! Tolong… diam.. dan lihatlah…! Ergghhh… kemana tadi DIA…?
ia ingin pergi saja. ia ingin berlari saja. Mendapatkan bahukekasih yg sudah seharusnya miliknya. Lalu jadi pencengeng yang diam… beraksi bak patung pahlawan yang dipampang di perempatan jalan raya. Sementara melumer semua sel dalam tubuhnya. Bibirnya masih melengkung ke atas. Lihat!!!
Tangannya terlemas menunjuk… DIA. Jika yang lain tak melihat… Sibuk mengecat rambut sampai jempol kaki,
Ah… Maka mereka masih punya tempat mengadu, Setidaknya.
Menangislah!!! Maka kau menangis sendirian. Tertawalah!! Maka semua tertawa bersamamu.
Dia memang ingin sendiri Maka dia mengumpulkan semua tangisan di tiap gang yang dilewatinya Dibawanya pulang semua Tangisan di tiap trotoar yang ditemuinya Dipungutinya tangisan tangisan yang tercecer Di got dan tong sampah.
Tertawalah sekeras kerasnya ditelinganya Maka dia akan mentertawaimu, Menyatut tiap keping udara Yang masuk ketelinganya jadi bunyi ketawa. Disusunnya jadi huruf huruf. Lalu dibacanya terpingkal pingkal sampai terkencing kencing Diburaikannya huruf huruf itu ke antero jagad Diteriakkannya ke penjuru langit. Palsu…!!!
Dan kalau ini yang harus aku rasakan… maka sudah kubenamkan diriku. Dalam kolam duri. Sampai mereka tak lagi menyakitiku.. Maka aku bisa terbang…. Meninggalkan semua.
Dan kalau ini yang mau kamu tunjukkan… maka sudah kulihat dengan jelas. Sedari aku pertama melihat matamu. Bahkan sampai waktu kukeluarkan semua isi perutmu dan kulontarkan bola bola Matamu dengan satu ketukan di tempurung kepalamu. Aku melihat kolam duri itu… menganga didepanku.
Kalau kamu tantang aku untuk itu, Maka, mari. Kita memagut segenang darah Yang terkucur dari kelopak mata.
Kalau kamu jadi kelinci, Aku serigalanya. Teruskanlah memakai bulu itu. Tak akan ada yang tau kau Makani bebangkaian Sembunyi dibalik karang. Rahasiamu terjaga padaku.