 Tangan Yang Indah ( Kepada siapa saja yang memiliki ibu ) Ketika ibu berkunjung, ibu mengajak saya untuk shopping bersamanya kerana Ibu menginginkan sepasang kurung yg baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi membeli belah bersama dengan orang lain, Dan saya bukanlah orang yang cukup sabar, tetapi walaupun demikian kami pergi juga membeli belah tersebut. Kami mengunjungi setiap butik yang menyediakan pakaian wanita, Dan ibu mencoba helai demi helai pakaian Dan pada akhirnya mengembalikan semua. Seiring Hari yang berlalu, saya mulai penat Dan kelihatan jelas riak2 kekecewaan di wajah Ibu. Akhirnya pada butik terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu baju kurung yang cantik. Dan kerana ketidaksabaran saya maka kali ini saya ikut masuk Dan berdiri bersama ibu dalam fitting room, saya melihat bagaimana ibu mencoba pakaian tersebut, Dan dengan susah payah mencoba untuk mengenakannya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai menua Dan dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi Ibu tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh rasa iba yang begitu mendalam. Saya berbalik pergi Dan coba menyembunyikan air Mata yang menetes tanpa saya sedari. Setelah saya mendapatkan ketenangan, saya kembali masuk ke fitting room untuk membantu ibu mengenakan pakainnya. Pakaian ini begitu indah, Dan akhirnya ibu membelinya. Shopping kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir begitu dalam dalam hati saya Dan tidak dapat dilupakan dari ingatan...... Sepanjang sisa Hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam fitting room Dan terbayang tangan-tangan ibu yang sedang berusaha mengenakan pakaiannya. Kedua tangan yang penuh kasih, yang pernah menyuapi, memandikan, membelai Dan memeluk saya, Dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah sangat menyentuh dengan cara yang paling berbekas dalam hati saya. Kemudian pada malam harinya saya pergi ke kamar ibu memegang tangannya erat-erat Dan menciumnya........yang membuatnya terkejut, saya memberitahunya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya untuk dapat melihat dengan sejelasnya, betapa bernilai Dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang Ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu Hari kelak tangan Dan hati saya akan memiliki keindahan-nya tersendiri. Dunia ini memiliki begitu banyak keajaiban yang tak terhitung, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan dari seorang Ibu... di link ini, cerita tentang kasih sayang & kesabaran jugak....
 | Category: | Music | | Genre: | Other | | Artist: | phil collins |
Take Me Home -Phil Collins- Take that look of worry I'm an ordinary man They don't tell me nothing So I find out what I can There's a fire that's been burning Right outside my door I can't see but I feel it And it helps to keep me warm So I, I don't mind No I, I don't mind Seems so long I've been waiting Still don't know what for There's no point escaping I don't worry anymore I can't come out to find you I don't like to go outside They can't turn off my feelings Like they're turning off a light But I, I don't mind No I, I don't mind Oh I, I don't mind No I, I don't mind So take, take me home Cos I don't remember Take, take me home Cos I don't remember Take, take me home Cos I don't remember Take, take me home, oh lord Cos I've been a prisoner all my life And I can say to you Take that look of worry, mine's an ordinary life Working when it's daylight And sleeping when it's night I've got no far horizons I don't wish upon a star They don't think that I listen Oh but I know who they are And I, I don't mind No I, I don't mind Oh I, I don't mind No I, I don't mind So take, take me home Cos I don't remember Take, take me home Cos I don't remember Take, take me home Cos I don't remember Take, take me home, oh lord Well I've been a prisoner all my life And I can say to you But I don't remember Take, take me home.. >>>......dansapasirhijau.multiply.com/journal/item/139/aku_lupa.....>>potonya, klik link ini...>>>
 Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di Mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Finalis 7 KEAJAIBAN DUNIA versi tahun 2008 adalah : 1.The Acropolis of Athens (450 - 330 B.C.) Athens 2.Alhambra (12th century) Granada, Spain 3.Angkor (12th century) Cambodia 4.Statues of Easter Island (10th-16th Century) Chile 5.The Eiffel Tower (1887 - 89) Paris, France 6.The Hagia Sophia (532 - 537 A.D.) Istanbul, Turkey 7.Kiyomizu Temple (749 - 1855) Kyoto, Japan 8.The Kremlin and Red Square (1156 - 1850) Moscow 9.Neuschwanstein Castle (1869 -1884) Schwangau 10.The Pyramids of Giza (2600 - 2500 B.C), Egypt 11.The Statue of Liberty (1886) New York City 12.Stonehenge (3000 B.C. - 1600 B.C.) Amesbury, UK 13.Sydney Opera House (1954 - 73) Sydney, Australia 14.Timbuktu (12th century) Mali Namun, sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu? Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah: • Hewan Berbicara di Akhir Zaman • Pohon Kurma yang Menangis • Untaian Salam Batu Aneh • Pengaduan Seekor Onta • Kesaksian Kambing Panggang • Batu yang Berbicara • Semut Memberi Komando apa, kenapa dan cerita selengkapnya bisa dibaca di >>> KahVeci - penjual kopigambar; hanya interpretasi, imajinasi & ke’kepepet’an sy pada keajaiban yang ketujuh, :D
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
‘I’m princess, tricked into being a witch’s slave. Will you liberate me?’ ‘Well, if I cant liberate you, what do you want of me?’
the young man returned that night to his home.. hoping that his adventure would soon be forgotten. But 9 months later, he received an unexpected souvenir. ‘this was left at the wall for you. It says here, his name is Tristan.---
‘fine. I’ve had enough of you anyway. Clearly you’d rather sit on your own in the middle of nowhere forever. ‘and just how were you planning to get me back to the sky? --- ‘maybe for the same godforsaken reason we get’ ‘we’ve got lighting to catch! Come on! --- ‘I used to watch people having adventures. I envied them’ ‘be careful what you wish for?’ ‘a shop boy like me, I could never have imagined an adventure this big in order to have wished for it’’ ‘if there’s one thing I’ve learned in my years watching earth; is that people aren’t what they may seem? They are boys who just happen to work in shops for the time being and trust me Tristan, u’r not a shop boy, you saved my live.’ --- ‘the little I know about love is that it’s unconditional. Its not something can buy.’ ‘this wasn’t about me buying her love, this was away for me to prove how I felt.’ ‘and what’s she doing to prove how she feels about you?’ ‘well….’ --- ‘you may think you’re showing a little spirit in front of your lady, friend. But if you talk back to me again, I’ll feed your tongue to the dogs…’ ‘I don’t understand why fight to be accepted by people you don’t actually want to be like?’ ‘yeah.. why would anyone do that to him self?’ ‘Exactly.’ --- ‘Your emotions give you away.. you’ve been glowing more brightly everyday. And I think you know why.’ ‘of course I know why I’m glowing. I’m a star. And what do the stars do best?’ ‘well, It’s certainly not the waltz.’ --- ‘don’t mention it. Reputations. You know. A lifetime to build, second to destroy.’ --- ‘even if I could everlasting life? I imagine it would be kind of lonely. Well, maybe if you had someone to share it with. Someone you love.’ --- ‘all these wars, pain & lies, hate, made me want to turn away & never look down again.’ ‘never find anything more beautiful. Yes, love is unconditional, also know it can be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable, strangely easy to mistake for loathing.’ ‘I think I love you.’ ‘my heart, it feels like my chest can barely contain it. And if you wanted it, I’d wish for nothing to exchange. No gifts, no goods, no demonstrations of devotion. Nothing but knowing you love me too. Your heart. In exchange of mine.’ --- ‘no, star cant shine with a broken heart. I thought I’d lost you. But you come back.’ ‘of course I did. I love you.’ --- no man can live forever. Except he who possesses the heart of a star.

 Iya paling. Ya bener mas g***, yen ra ngerti ki ojo pencet2. ------yo pencet wae irunge. Haha. Yowes gpp.. Bsk bawa aja. Btw lu kayaknya cucok dah dg shock terapi by g*** ****************. Hiakakakakaa..!
Dasar orang utan jelek!!! Nite sista!!! ----kalo ada yg cantik jg gak bakalan ada yg mo pulang sini. Hihihi. muah muah muah!
Ya.. ********* *** **** *** ***** (**k, gilak, ***** ******** ****jawabane yak? Edhian, gedhek2 aku, heran phuol) ------iyo. Mantap. pas untuk seumuran itu lah. Btw td lu juga pose sm ‘yg’ kayak gitu kan? Wakakakaaaa.. ganti selera. Lilin. Inndomiiii.. seleerakuuu!
Ka**** **** ** ***** **** ****, *****, ***, ******* (le ******, ***,***** pinter banget ya **k) -----hahaha. Dasar. Mlh njaili uwong. Awas kepatok dewe loh. Seraaang! Majuuu! U don’t know till you try.
Try njegur jurang? Emoh!!! Aluwung try ngilangke poto meng mem card bae lah dasar. payeyo. nek wes siap konsekuensi pie sing dirasakke & stlh njegur kui arep pie, yorepopo. maju wae. tantangen wae. adu sakti nuh...
bwakakak. Buang waktu, buang tenaga, buang pikiran, buang airmata, buang duit, ujung2nya buangkrut. -----ealah… pelit. Maybe theres another part u miss or hidden. Calld advantage. Benefit. Profit. Teacher. Akh! Whatsthat! Huakiakakak! Mystery. Hhh… what a life, anw,

Setelah seorang laki-laki "mabuk" ingin menukar tanggal pernikahannya dengan meminta cinta Luna, “kalau memang kita berjodoh Na, 8 tahun tidak ada yang bisa menyadarkan aku seperti aku kenal Luna 3 bulan ini mampu membuka mataku. Bahwa pernikahan ini memang tidak mungkin dilanjutkan” ujar laki laki mellow itu. “cupet banget si ini orang? Emang kenapa? 3 bulan mengenal orang, cukup untuk alasan membatalkan pernikahan dengan undangan yg sudah tercetak dan hubungan yang 8 tahun?” umpat Luna dalam hati. “tau gak si mas? Aku tu kesel, tersinggung sama pernyataan mas itu.” Dia kira aku apaan? Sejauh apa dia kenal aku? Kok kepedean bilang aku mau kawin sama dia? Ya kan wajar orang dia nanya apa pendapatku tentang pernikahan beda agama. Siapapun bertanya akan aku jawab dengan jawaban sama. Jadi aku tidak ada maksud bahwa aku terus mau mengggantikan posisi pengantin wanita. Uh!!!! Pedesaan banget! Kata mas itu, “kalo nikah-nya dua kali gimana Na? di gereja dulu, trus di ijab-kan” “ya sama aja. Murtad.” “Tapi abis itu aku sholat banyak banyak, ngaji dan lain lain.” Jawabanku tetap sama. Murtad. Sia-sia lu mau nungging-nungging sampe hernia, sampe kening menebal, dzikir sampe bibir dower, sekali bersaksi beritual di hadapan Tuhan orang lain maka Murtad lah. Mending sekalian aja lu pindah agama mas! Jelas sudah. “maksudnya biar yg di gereja ke tip-X ijab? Kreatif jg..hihi”, Luna cekikikan. “ya… padahal ibu dan adik perempuanku enggak setuju apalagi perempuan itu sepupu dekat aku. Kata lakilaki itu.” “Incest.” Jawab Luna pendek tanpa ekspresi. Lalu tersenyum memandangi ujung sepatu coklatnya yang basah terkena cipratan air wudhu di masjid tadi. Hmmm… sepatu coklat kesayangannya. Ada yg janji cari sepatu bareng… dia teringat pada Rahar. Laki laki menyebalkan yang berhasil mengontrol perasaannya. Mempermainkan hatinya. Dengan muncul hilang begitu saja. Anehnya dia menyukai permainan itu walaupun seringkali menyadari kebodohannya. Mungkin Luna jatuh cinta pada Rahar, Pria 32 tahun penderita shock culture dengan luka alam bawah sadar atas nama cinta. Atau hanya menyukai tantangan seberani apa dia menghadapi permainan hingga dia sendiri yg bisa terjatuh peluru. =flash frame= Lalu datang seorang laki-laki yang menggunakan istrinya sebagai alat reproduksi - Istri nya selalu liburan di ahir minggu – laki-laki kesepian itu menjadi begitu menjatuh cintai Luna. Seorang ayah & suami patah hati - ditinggal kekasih sejatinya - memilih seorang wanita karrier sebagai istri, sesaat setelah perginya kekasih itu – 9 tahun lalu- Laki laki itu menemukan sekumpulan kekasih-kekasih lamanya dalam diri Luna… - ibu bayi laki laki tanpa ayah yg tdk kekurangan kasih sayang ayah- Luna yang selalu ceria…… *Sebenernya… keyakinan itu kan yg bener2 dari dalam hati, kan…? Hati orang sapa yg tehe… Mo murtad mo ngapain ngapain. Mo amalan jalannya seperti mesin, kalo hati hampa? Mo amalan keliatannya ke utara, tapi kalo dalam hati madep mantep ke selatan…? Gimana tuh? Akh… ukh… nggak ngerti… Astaghfirullah… ampunilah saya yg bodoh ini… Tolongi saya ya Rabb… *tidak ada bedanya ketika saya murka sm hidup dan sama yg sy pikir Yg Punya hidup. Murka sm org2 yg mengadeng2 kan amalannya demi dapet ini demi dapet itu, lalu mengeluh karena merasa cuma dpt capek. Buat apa..? Maka sy murka. Ntah krn keluhan org itu, ato karena pikiran kotor sy sendiri. Ngambek tidak beramal. Merobot. Astaghfirullah… Tidak ada bedanya. Jadi… dimana Kau… Tuhan…? Di… mana… aku disini… kepleset… lagi. Ugh!!! Sebal!!! **bukan dikirimin sapa sapa... buka2 tulisan *ngarang* lama aja. [Sungguh, kita bukan Tuhan. Dan karenanya, maka tidak mungkin ada orang lain yang akan mengubah hidup kita sendiri. Semua berakar dari pikiran tiap kita. Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan.] [Sadarilah bahwa semua yang engkau katakan, dan lakukan itu ada diantara engkau dan Tuhanmu. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pikir dan pedulikan apa yang engkau lakukan atas orang lain, dimana orang lain akan berfikir atas perbuatan baik yang kau lakukan.] [ paragraph diatas ] yg mengingatkan sy..
Sudah sejak zaman dulu, yg namanya suami itu diposisi-kan sebagai kepala keluarga dan istri sebagai ibu rumah tangga. Ini lantas diperkuat UU Perkawinan No. 1/1974, pasal 31 & 34. Suami punya kewajiban melindungi istrinya dan memberikan segala keperluan hidup dalam berumah tangga sesuai kemampuan. Sementara istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya. Namun seiring berubahnya nilai-nilai tradisional, pembagian peran dalam keluarga kini cenderung lebih lentur.
“biar jelek asal punya!” tukas Rina (33), tiap kali ada yg mempertanyakan, mengapa ia-sarjana lulusan PTN terkemuka, pengajar di lembaga pendidikan computer- memilih Rudi sbg suami. “Jelek” yg dimaksud Rina tidak mengarah pada wajah&sosok Rudi, tp lebih krn Rudi tak bekerja.
‘peran ganda atau beban ganda buat wanita?’
Perempuan zaman ini lebih banyak yg bisa diterima bekerja di banyak bidang ketimbang pria. Sebaliknya, pria lebih sulit masuk ke bidang-bidang khas perempuan.
Scr tradisional, agama dan hukum konvensional pun tak menutup kesempatan istri untuk mencari nafkah, krn suami&istri setara dalam hak dan kewajiban. Dalam Islam dinyatakan dalam Al-quran (Al-Baqarah ayat 187 dan An-Nisaa ayat 34). Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai saudagar yg banyak membantu keuangan dan moral suami dalam menyampaikan wahyu.
Masalahnya, jika istri menjadi pencari nafkah utama, apakah kewajiban suami sebagai kepala keluarga lantas gugur begitu saja? Yg menggemaskan, bila suami sebenarnya masih mampu, tapi terkesan tak mau lagi menafkahi. Misalnya, jika suami mulai berdalih dan menyalahgunakan ayat-ayat dalam agama, misalnya dengan menyitir ‘rezeki datangnya dari Tuhan’.
Ingatkan, kita menikah untuk hidup dengan hal-hal yg baik, hidup lebih baik. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tertentu – disayang, diperhatikan, dilindungi, berbagi. Bicarakan diawal, karena bila sudah menikah, apalagi punya anak…. Perempuan bisa terjebak pada tuntutan nilai untuk bertahan, dalam situasi yg tak baik dalam perkawinan. Tak diberi nafkah adalah bentuk kekerasan emosional dan ekonomi.
Dari survey, tyt beban kerja dirumah tangga tetap lebih banyak di pundak istri, walaupun istri juga bekerja. Namun, kalau istri memang bisa mencari nafkah, kenapa tidak mau menggantikan peran suami?
Kalau merasa tak kuat untuk bertahan, bisa mencari pilihan lain, berpisah.
Tidak hanya mengandalkan jargon “biar jelek asal punya!” atau ikuti motto ini saja? “biar jelek asal kerja.”
*penulis: Christantiowati
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku.” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf, anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya mmebutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
*FREEDOM IS NOT THE RIGHT TO DO WHAT WE WANT; BUT WHAT WE OUGHT. *sigh* kangen rumah yg dulu....
Ia tua, bahkan buruk laku dan rupa. Sementara sang istri tak hanya cantik jelita. Segala yang tampak sungguh mempesona. Tutur kata mesra, perhatian, penuh kasih sayang serta cinta. Tak heran, semua itu jelas mengundang beribu tanda tanya. Sementara, kisah lain tak urung pula membuat rasa heran mencuat. Ketika laki-laki kaya dan tampan tersebut ternyata mantap menjalani sebuah tekad. Padahal, baru saja keraguan itu sesaat menyergap hatinya saat melihat seorang perempuan yang sungguh tak sepadan. Namun, segera dibuatnya sebuah keputusan besar. Sepenggal hati kini telah bertemu dengan pasangan yang dijanjikan. Kedua biduk pun dikayuh dalam mahligai cinta. Bahagia, mengarungi samudera kehidupan. Berbilang usia pernikahan membuat mereka semakin tampak mesra. Bertambah guratan keriput juga tak mengurangi rasa sayang di antaranya. Bahkan setiap keluarga itu utuh sepanjang hidup mereka. Sungguh!!! Keajaiban cinta kembali menakjubkan manusia. Jika nalar yang digunakan untuk menilainya, maka itu tiada guna. Karena cinta pasti menyatukan hati yang berserakan. Apa pun jua rupa dan laku pemiliknya. Memang, seperti begitulah adanya cinta. Pribadi-pribadi yang mengagumkan ternyata lahir dari cinta. Mungkin cinta mereka tak setara di pandangan manusia. Tetapi, pelaku cinta pasti mengharapkan ganjaran yang teramat sangat berharga dari Sang Pemiliknya. Penulis: Abu Aufa* **A good looking newcomer with a background very different from yours will come into your life today. Open yourself up to them, and you'll find you have a lot in common. This could be a very good match for you. dedicated to gang2000 abrakadebra..alakazam...! :>
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “Tujuh Keajaiban Dunia.” Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi; 1) Piramida 2) Taj Mahal 3) Tembok Besar Cina 4) Menara Pisa 5) Kuil Angkor 6) Menara Eiffel 7) Kuil Parthenon Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.” Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.” Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, “Saya pikir, “Tujuh Keajaiban Dunia” adalah, 1) Bisa melihat, 2) Bisa mendengar, 3) Bisa menyentuh, 4) Bisa menyayangi, Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan, 5) Bisa merasakan, 6) Bisa tertawa, 7) Dan, bisa mencintai
*Someone needs to hear from you and they need you to really make an effort. You're not used to doing hard work to maintain your social network, but this is the time for it -- and it will pay off.
Pemeo yang menyebutkan 'uang tak bisa membeli kebahagiaan, tapi seks bisa membuat orang lebih bahagia' memang ada benarnya. Riset yang dilakukan David Blachflower, pakar ekonomi dari Dartmouth College, dan Andrew Oswald dari Universitas Warwick di Inggris, menyatakan aktif secara seksual terbukti bisa lebih bahagia dibanding makmur secara finansial.
Blanchflower juga mengatakan tak ada hubungan antara uang dan seks; karena rata-rata orang dengan penghasilan berbeda cenderung memiliki frekuensi seks yang sama. Namun seks memiliki efek lebih besar pada kebahagiaan seseorang terutama mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan lebih kaya, dibanding mereka yang berpendidikan rendah.
Rata-rata mereka yang paling bahagia adalah mereka yang paling banyak berhubungan seksual secara rutin dan sehat, dalam hal ini pasangan yang sudah menikah atau mereka yang memiliki komitmen hubungan mengaku melakukan 30% hubungan seksual secara rutin dibanding mereka yang masih single. Hasil penelitian yang dikutip dari jurnal Money, Sex and Happiness: An Empirical Study yang diterbitkan National Bureau of Economic Research ini memperkirakan melakukan hubungan intim sekali per bulan menjadi dua kali seminggu setara dengan rasa bahagia setelah mendapat tambahan penghasilan sebesar 50 ribu dolar, untuk rata-rata pekerja di Amerika.
*huah...cck..cck..ck... Don't trust every single thing you see or hear today -- there's often more going on underneath the surface. If you keep poking eventually you'll come up with the real skinny, whatever it is.
 Wartawan: "Terus Cinta ada rencana nyanyi gak?" CL: "Akyu penghen jadi penyanyih seperci Mulan. Cinta kemaryin syudah nyanyi di dephan Ahmad Dhani, he had listen my voice. Katanya Ahmad Dhani, Cinta tinggal naik panggung aja." Wartawan:"Boleh dong penonton liat Cinta nyanyi... Siap kan ?" CL: "Boleh... Dengerin ya..." *tarik nafas* " So why or a jump you... Jump you go down tell a.... So why or a cat em you... Cat em you peace and ga why gell a..." Wartawan: *bingung* "Lagu apa itu Cinta?!" CL: "Suwe ora jamu... Bagus kan ?" *tersenyum sumringah
*N: makasi mas regard_14@yahoo.com, kiriman jamunya bikin geli perut... ;D 
Mang Kabayan
Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.
Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, “Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?”
Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta. Hal ini membuat Profesor menjadi gusar. Katanya, “Kabayan, ayo kita main tebak-tebakan!
Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000, Tetapi kalau kau bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000.
Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu.
Profesor melanjutkan, “Kemudian, kau ajukan pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp. 5.000. Tapi kalau aku tak bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000, Bagaimana?”
Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, “Baik kalau begitu. Sekarang ajukan pertanyaanmu.”
“Ok,”sahut profesor dengan cepat. “Pertanyaanku, berapa jarak yang tepat antara bumi dan bulan?”
Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. Ia langsung merogoh sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,pada profesor. Dengan gembira Profesor menerima uang itu, “Nah, sekarang giliranmu.”
Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Binatang apa yang sewaktu mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?”
Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop, menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai situs ensiklopedi. Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia menyerah.
Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp. 50.000 pada Kabayan yang menerimanya dengan hati senang.
“Hai, tunggu dulu!” profesor itu berteriak. “Aku tidak terima. Apa jawaban atas pertanyaanmu tadi?”
Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.
Smiley…! Jangan menganggap orang lain tidak tahu apa yang kita ketahui, karena seringkali di balik ketidaktahuannya mereka mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
*so, pernahkah bersedia bertanya pada orang yg kamu anggap tidak tau apa apa?
"Nilai Sebuah Kebersamaan" Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu. “Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?” “Tentu, ada apa?” “Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?” “Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah. “Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon. “Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.” “Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?” Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.” Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya. Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya. “Kau tertidur, Nak?” ia bertanya. “Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak. “Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.” Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.” Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek. Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya. “Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya. “Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil. “Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”
*hiks..hiks... sy jd pengen cengeng... yuk, mau?
 Suatu hari, ketika sedang menebang pohon, seorang penebang kayu kehilangan kapaknya karena jatuh kesungai. Lalu dia menangis dan berdoa, sehingga Dewa muncul.“Mengapa kamu menangis?”Si penebang kayu sambil terisak menceritakan bahwa kapak sebagai sumber penghasilan satu-satunya telah jatuh kesungai.Lalu Dewa menghilang dan muncul kembali membawa kapak emas. “Apakah ini kapakmu?” “Bukan, Dewa “ Lalu Dewa muncul kembali membawa kapak perak. “Apakah ini kapakmu?”
Lalu Dewa mengeluarkan sebuah kapak yang jelek dengan pegangan kayu dan mata besi
“Apakah ini kapakmu?” “Ya, Dewa, benar ini kapak saya” “Kamu orang jujur, karena itu Aku akan memberikan ketiga kapak ini untukmu sebagai upah kejujuranmu”
Lelaki itu sangat bersyukur dan pulang dengan gembira. Beberapa hari kemudian ketika sedang menyeberang sungai, istrinya terjatuh dan hanyut.
Lagi, si penebang kayu menangis dan berdoa. Kemudian Dewa muncul.
“Mengapa kamu menangis?” “Istri saya satu-satunya yang sangat saya cintai terjatuh ke sungai, Dewa” Lalu Dewa menghilang kedalam sungai dan muncul kembali dengan membawa Jennifer Lopez
“Apakah ini istrimu?”
“Ya, Dewa”
Lalu Dewa marah dan berkata
“Kamu berbohong, kemana perginya kejujuranmu?”
Lelaki itu dengan takut dan gemetar berkata,
“Dewa, seandainya saya tadi menjawab tidak,Dewa akan kembali dengan membawa Britney Spears, dan jika saat itu saya juga menjawab tidak, Dewa akan kembali membawa istri saya yang asli, dan jika ketika itu saya menjawab iya, Dewa akan memberikan ketiganya untuk menjadi istri saya. Saya ini orang miskin,Dewa, tidak mungkin saya bisa membahagiakan tiga orang istri…”
KESIMPULAN: Lelaki berbohong itu demi kebahagiaan orang lain…… Bener nggak sih…..??? :-)

 | Category: | Books | | Genre: | Romance | | Author: | by Rick Warren |
The importance of things can be measured by how much time we are willing to invest in them. The more time you give to something, the more you reveal its importance and value to you....
Time is your most precious gift because you only have a set amount of it. You can make more money, but you can't make more time. When you give someone your time, you are giving them a portion of your life that you'll never get back. Your time is your life. That is why the greatest gift you can give someone is your time.....
The essence of LOVE is not what we think or do or provide for others, but how much we give of ourselves.....
The most desired gift of love is not diamonds or roses or chocolate. It is focused attention. LOVE concentrates so intently on another that you forget your self at that moment....
You can give without loving, but you cannot love without giving. "God so loved the world that he gave..." LOVE means giving up; yielding my preferences, comfort, goals, security, money, energy, or time for the benefit of someone else. 
 Yang mengalami kecanduan cinta menunjukkan tanda-tanda:
1. Adanya pikiran obsesif, misalnya terus-menerus curiga akan kesetiaan pasangan, terus- menerus takut ditinggalkan pasangan sehingga selalu ikut ke mana pun perginya sang kekasih/pasangan. 2. Selalu menuntut perhatian dari waktu ke waktu, tanpa ada toleransi dan pengertian 3. Manipulatif, berbuat sesuatu agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi kebutuhannya, misalnya : mengancam akan memutuskan hubungan jika mementingkan hobi-nya 4. Selalu bergantung pada pasangan dalam segala hal, apapun juga, mulai dari minta pendapat, mengambil keputusan sampai dengan memilih warna pakaian 5. Menuntut waktu, perhatian, pengabdian dan pelayanan total sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan tidak bisa menekuni hobi-nya, jalan-jalan dengan teman-teman kelompoknya, atau bahkan memberikan sebagian waktunya untuk orang tua/keluarga. 6. Menggunakan sex sebagai alat untuk mengendalikan pasangan 7. Menganggap sex adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta 8. Tidak bisa memutuskan hubungan, meski merasa amat tertekan karena “berharap” pada janji-janji surga pasangan 9. Kehilangan salah satu hal terpenting dalam hidup, misalnya pekerjaan atau /keluarga inti demi mempertahankan hubungan
Jadi, tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang terjalin antara orang yang kecanduan cinta dengan pasangannya; ibaratnya seperti mengisi gelas bocor yang tidak pernah bisa penuh jika diisi, karena begitu airnya dituang lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak pernah luber. Demikian juga orang kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus pada orang lain karena selalu merasa kehausan cinta. Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang sering berganti pasangan karena merasa harapan mereka tidak dapat dipenuhi sang kekasih. Padahal, meski puluhan kali mereka berganti pasangan, individu yang kecanduan cinta akan sulit membangun hubungan yang stabil dan abadi. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka lebih sering menyalahkan mantan-mantan kekasihnya/pasangannya.
Penyebab Sebenarnya, kecanduan cinta itu adalah kecanduan yang bersifat psikologis karena tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis (seperti kasih sayang, perhatian, kehangatan dan penerimaan seutuhnya) di masa kecil. Menurut Erik Erikson - seorang pakar perkembangan psikososial, orang yang pada masa batita-nya tidak mengalami hubungan kelekatan emosional yang stabil, positif dan hangat dengan lingkungannya (baca : orang tua dan keluarga), akan sulit mempercayai orang lain – bahkan sulit mempercayai dirinya sendiri. Selain itu, trauma psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan fisik pada usia dini, atau menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua yang agresif dan kasar terhadap pasangan, dapat menghambat proses kematangan identitas kepribadian dan kestabilan emosinya. Pemandangan dan pengalaman tersebut kelak berpotensi mempengaruhi pola interaksinya dengan orang lain.
Keterbatasan respon/perhatian dari lingkungan pada waktu itu, dipersepsi olehnya sebagai suatu bentuk penolakan; dan penolakan itu (menurut pemahaman seorang anak) disebabkan kekurangan dirinya. Nah, pada banyak orang, masalah ini rupanya tidak terselesaikan dan akibatnya, sepanjang hidup ia berjuang untuk mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu memperhatikannya. Orang demikian berusaha membuat dirinya diterima dan dimiliki oleh orang lain – meski harus “mengorbankan” diri. Orang ini begitu cemas dan takut jika kehilangan orang yang selama ini memilikinya; karena perasaan “dimiliki” ini identik dengan harga dirinya – dan sebaliknya ia akan kehilangan harga diri jika kehilangan pemilik.
Dampak Akibat kecanduan cinta bisa dirasakan secara langsung oleh yang bersangkutan, karena orang itu tidak dapat menikmati hubungan yang terjalin karena pikiran dan perasaannya selalu diliputi ketakutan. Dan tidak jarang ketakutan tersebut makin tidak rasional dan melahirkan tindakan yang tidak rasional pula, misalnya tidak memperbolehkan pasangannya pergi kerja karena takut direbut orang.
Bagi Individu Bersangkutan Akibat jangka menengah dan jangka panjang adalah individu yang bersangkutan akan berada dalam kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif. Individu tersebut mudah curiga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga pasangannya. Selain itu ia menjadi mudah marah, cepat tersinggung dan bagi sebagian orang bahkan ada yang bertindak agresif dan kasar demi mengendalikan keinginan dan kehidupan pasangannya. Pasangannya tidak diijinkan untuk punya agenda tersendiri; pokoknya harus mengikuti keinginannya dan 100% memperhatikannya. Individu tersebut juga mudah merasa lemah, lelah dan lemas. Pasalnya, seluruh energinya sudah dipergunakan untuk mengantisipasi ketakutan yang tidak beralasan dan melakukan tindakan untuk menjaga pertahanannya. Nah, kehidupan demikian membuat dirinya menjadi manusia tidak produktif. Sehari-hari yang dipikirkan dan diusahkan hanyalah bagaimana supaya “miliknya terjaga”.
Bagi Pasangan Banyak orang yang tidak sadar kalau dirinya terlibat dalam pola hubungan yang addictive sampai akhirnya ia merasa stress, tertekan namun tidak berani/takut/tidak berdaya untuk memutuskan hubungan yang sudah berjalan beberapa waktu. Bagi sebagian orang yang cukup sadar dan mempunyai kekuatan pribadi, ia akan berani mengambil sikap tegas dalam menentukan arahnya sendiri. Namun, banyak pula orang yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran demand-supply tersebut karena ternyata dirinya sendiri juga mengalami masalah dan kebutuhan yang sama. Jika demikian halnya, maka hubungan yang ada bukannya mengembangkan dan mendewasakan kedua belah pihak, namun malah semakin memperkuat ketergantungan cinta keduanya. Situasi ini lah yang sering dikaburkan dengan hubungan yang romantis dan cinta buta. 
 Call you up in the middle of the night Like a firefly without a light You were there like a slow torch burning I was a key that could use a little turning
So tired that I couldn't even sleep So many secrets I couldn't keep Promised myself I wouldn't weep One more promise I couldn't keep
It seems no one can help me now I'm in too deep There's no way out This time I have really led myself astray
Runaway train never going back Wrong way on a one way track Seems like I should be getting somewhere Somehow I'm neither here no there
Can you help me remember how to smile Make it somehow all seem worthwhile How on earth did I get so jaded Life's mystery seems so faded
I can go where no one else can go I know what no one else knows Here I am just drownin' in the rain With a ticket for a runaway train
Everything is cut and dry Day and night, earth and sky Somehow I just don't believe it
Bought a ticket for a runaway train Like a madman laughin' at the rain Little out of touch, little insane Just easier than dealing with the pain
Runaway train never comin' back Runaway train tearin' up the track Runaway train burnin' in my veins Runaway but it always seems the same

Cerpen KUNTHI HASTORINI perempuan berkerudung malam. Dalam-dalam separuh ruhnya terembus perlahan dalam semilir dingin malam. Kelam mencumbui kurus kering tubuhnya yang setengah telanjang. Berjalan dia mengutuki sunyi. Tenggelam barisan jejak tak pasti ditanggalkan. Di sudut kota, ia meringkuk sendiri. Ada isak tertahan menggema di sudut ruang. Ada serpihan darah tercecer di tubuhnya yang setengah telanjang. Basah. Matanya basah terbaca sinar bulan perlahan datang. Menyisir peristiwa rahasia perempuan berdiri. Teriak mencekik lehernya, ”biadab!!!!”. Dan, dalam hitungan detik ia pun limbung jatuh tersungkur mencium aspal yang kerontang. Malam masih pun kelam Perempuan, di sudut kota, diam tak bersuara.
***
Tiga tahun kemudian. Gaduh suara orang pasar memekak telinga. Seorang gadis berjilbab putih tengah sibuk menawar buah apel segar. Tak lama, ia pun membawa sebungkus buah apel itu. Seulas senyum puas terbaca dari bibirnya. Agaknya ia berhasil mencapai kesepakatan dengan si penjual dengan harga yang diinginkannya. Terhenyak ia, tiba-tiba sebuah colekan mendarat di bahunya. Bingung bercampur takut merambati bilik hatinya. Seorang perempuan berperawakan kumal tersenyum-senyum padanya, ”Mbaknya cantik deh, minta duitnya dong!” ujarnya sambil menggaruk-garuk rambutnya. Gadis berjilbab itu terkesiap dengan tanya di kepala, ”Siapa dia?”. Namun, sebuah teriak mengusik, ”Re !!!”, kiranya perempuan tengah baya menunggunya di pintu mobilnya. Re memandang sekali lagi ke arah perempuan itu sekilas. Perempuan yang masih senyum-senyum dengan garukan dikepalanya. ” Ayo dong!!!” rengeknya. Re menggeleng dan melangkah pergi. Perempuan kumal itu masih tersenyum-senyum sendiri. Perempuan kumal di tengah pasar mengoceh sendiri. Dari balik jendela mobil, baru Re menyadari perut perempuan itu besar. Dia bunting!.
***
Terik menghardik. Perempuan bunting terseok-seok di atas trotoar yang garang. Gaduh sekitar tak satukan ruhnya yang kerontang. Sunyi mengaliri darahnya. Lapar menggiris perutnya. Ke mana arah tuju, bahkan ia tak tahu. Dari mana ia, ia pun bertanya-tanya. Tiba-tiba saja ia telah diusir oleh pemilik warung yang dimintainya sesuap nasi. Dirabanya perutnya, ach! betapa beban itu semakin menjadi. Menelusur ingatan di suatu ketika rahasia, mengejang seketika mampir pada satu malam kelam. Wajah-wajah tak dikenal berbaris. Wajah-wajah tak dikenal berceletoh dan tertawa serupa setan. Dan dia? Seorang perempuan menjerit, meronta, mencakar-cakar udara. Serupa setan pula ia berteriak, ”Biadab!!!!’. Dan lengking tawa itu semakin menjadi. ”Diam!!!” hardik seorang perempuan tinggi besar, ”Apa-apaan kau ini?” Perempuan bunting memandang perempuan garang di hadapannya tak mengerti. Apa yang terjadi? ”Siapa perempuan ini?” rintihnya. ”Pergi!” usirnya. Perempuan bunting menatap perempuan garang sekali lagi. Ia pun pergi menyusuri terik yang terasa kian menghardik.
***
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang gadis berjilbab putih tengah asyik membolak-balik album fotonya. Sesekali tersungging senyum dari bibir tipisnya. Masa lalu yang tiba-tiba bermain-main di benaknya. Pada tawa lucu si gendut Mutia. Pada nyengir malu-malu si gigis Raka. Pada tangis Ani yang tidak dikasih uang jajan oleh ibunya. Semua terangkum dibenak gadis bernama Re itu. Sedesah bibirnya berucap, ”Ke manakah kalian kini berada, sahabat-sahabat kecilku? Telah jadi apakah kalian kini? Adakah hidup telah membuatmu menjadi apa yang kau cita-citakan? Teringat pada sebuah pertemuan dengan Ragil waktu itu. Lelaki yang dulunya suka ingusan itu, kini telah jadi pebisnis. Dengan bangga diceritakannya pengalamannya. Re tahu, Ragil bukan dari keluarga kaya, tapi dia seorang anak yang cerdas. Waktu SD dulu ia selalu juara kelas. Sungguh, Re tak heran jika bocah yang suka ingusan itu kini jadi pebisnis yang sukses. ”Alhamdulillah,” desah Re memandang gambar bocah kecil dengan ingus di bawah hidungnya. Tiba-tiba pandangan Re tertancap pada sosok kecil di sudut album. Gambar seorang gadis cilik tengah tersenyum manis. Siapa ya namanya?. Menelusur ingatan Re pada gadis itu. Yup! Re ingat. Nama gadis kecil itu Dara. Gadis kecil yang lincah dan lugu, tapi juga cerdas. Kalau tak salah, dulu Ragil hobi sekali menggoda Dara. Dara yang sok jual mahal jika dirayu dengan sebatang coklat oleh Ragil. Katanya sih, Ragil naksir Dara. Bahkan Re pernah dengar Ragil pernah bilang, ”kalau udah besar, mau nggak jadi istriku?” Re terkekeh tertahan. Duh! Di mana sekarang Dara berada ya? Pasti dia telah tumbuh jadi gadis cantik dan menarik. Pasti dia jadi idola. Banyak lelaki bakal melirik dan berusaha merebut perhatiannya. Dara...Dara...Dara...
***
Senja telah turun dari peraduannya. Perempuan berjalan terseok-seok ke tepi kota yang mulai reda. Letih mukanya tersiram gerimis hujan. Berteduh ia di sebuah halte yang sepi. Lapar mencabik-cabik perutnya yang bunting. Mulutnya kering berceloteh tak beraturan. Bicara apa? Tak jelas!. Diusap-usap perutnya bunting perlahan. Diam-diam tersungging senyum dari bibirnya. Tiba-tiba, seorang gadis kecil yang cantik dan lincah bermain-main air hujan di hadapannya. Berlarian bolak-balik menggodanya. Lincah sekali gadis itu. Ingin dipanggilnya, tapi seakan bibirnya terkunci. Gadis kecil itu tertawa di bawah guyur hujan menderas. Berputaran menari-nari. Basah kuyup tubuhnya seolah tak rasakan dingin. ”Ibu! Ibu!” celotehnya riang. Seorang perempuan tua tiba-tiba muncul tak tahu dari mana. Mendekap tubuh kuyup gadis kecil penuh sayang. ”Sudah Ibu bilang, jangan main air hujan! Nanti sakit, sayang!” ujar perempuan itu sambil mencium gerai rambut gadis kecil mesra. Gadis kecil tertawa tatkala tubuh mungilnya digendong dan dibawa pergi. Pergi dari hadapan perempuan bunting. Ada yang hilang dari bayang. Tinggal hampa menghimpit dada perempuan bunting. Ke mana perginya gadis kecil itu? Kosong merambati pembuluh napasnya. Dihirupnya udara sekuat tenaga. Seakan meminta cerita itu kembali. Tak! Diam selimutkan karam. Namun ada yang menjerit tiba-tiba, ”Jangan pergi!!!!” Udara memanas gerah meresah. Kilat menyambar-nyambar marah. Tangis kian menggiris. Menyelinap dekap pekat. Berhenti! Tawa mengangkasa udara tiba-tiba. Kembali gadis kecil menari-nari di bawah guyur hujan. Terkekeh dia riang berkejaran, entah dengan apa atau siapa. Perempuan bunting pun tertawa. Bahagia menelusup batinnya. ”Gadis kecilku.....,” bisiknya pada udara. Mungkin masa mengambang cerita. Tatkala perlahan sebuah perubahan terjadi, tubuh mungil itu menunjukkan keajaibannya. Puting kecilnya tiba-tiba merekah indah. Pinggulnya membesar layak gitar yang dipetik tangan-tangan misteri. Semampai menjulang bak tarian tak henti dinyanyikan alam. Kaki mungil itu pun memanjang membentuk lekuk-lekuknya. Sampai di pelupuk, matanya bercahaya. Pancarkan jelita tak terjamah dusta. Hidung menjulang di antara tulang pipinya yang ranum dan matang. Bibir tipisnya merekah merah darah. Seulas senyum tergaris manis. Perempuan bunting terpana. Serupa dirinyakah dia? Perlahan ditelusuri tubuh yang dibawanya sekian masa. Hitam legam kulitnya terbakar matahari. Kurus kering bak tulang tak berdaging. Dirabanya payudaranya, hanya seonggok daging dirasanya menggantung. Dan perut besar serupa balon diremasnya seketika. Wajah-wajah tiba-tiba datang....tertawa memuakkan laksana setan. Wajah-wajah penuh syahwat terbakar! Mengapi-api pelupuk perempuan ketakutan. ”Biadaaaaaaab!” makinya Terpenggal kata dimulut selintas wajah mesum itu, ”Ayolah Dara, manisku...,” Dara...Dara...Dara....
***
Perempuan berkerudung malam. Melintasi kejemuan waktu tak berkesudahan, sedang arah tak tahu ke mana tuju. Pulang? Pulang ke mana bahkan ia tak tahu. Yang diingat hanya sebuah rumah kecil dipinggir kali. Rumah yang menyimpan wajah sedih perempuan tua mengusap gerai rambutnya. Yang diingat wajah marah lelaki tua memegangi kepalanya. Yang diingat malu menusuk keperempuannya yang terampas...terhempas! Yang diingat hanyalah lintasan peristiwa trauma langkahnya berlari. Jauh...jauhi rumah dipinggir kali. ”Tak ingin aibku membebanimu, Bu,” bisiknya pada udara yang diam-diam mengikutinya. Sebisik malam selendangkan pejam perempuan. Dari sebuah ujung yang lain, seorang gadis berjilbab putih melangkah terburu. Ada yang tercecer diotaknya. Agenda yang harus dituntaskannya di kampus telah pun usai, tapi tak dengan pikirannya. Karena menurutnya hasil yang ia dapat tak sesuai dengan targetnya. ”Ach...sudahlah! Mungkin inilah yang terbaik untukku!” gumamnya pada diri sendiri. Bruk! Sebuah benda asing dirasanya menghalangi jalannya. Tertegun ia tatkala menyadari, kakinya telah menubruk setubuh perempuan berbusana hitam kumal. Jantungnya semakin berdegup kencang tatkala wajah perempuan itu terangkat dan memandang kosong ke arahnya. Ada kematian tersenyum tiba-tiba di pusara jasadnya. Seulas senyum terbata terbaca. Gadis berjilbab putih itu mendekat. Takut yang tadinya menyergap tersingkir perlahan berganti tanya berdesakan. Bola matanya menelusur jejak tubuh perempuan. Bunting? Perempuan ini bunting? Mengejang ingatan seketika pada peristiwa terik. Bukankah? Bukankah? Bukankah dia perempuan yang dijumpainya di pasar kala itu? ”Mbak cantik deh! Minta duitnya dong!” demikian ia berucap merengek. Tak sampai di situ ingatan mengejar. Seperti pernah lebih dari sekedar itu, gadis mengenal perempuan. Tapi, di mana? Kapan? Hening terpecah oleh cekikan tiba-tiba dari mulut perempuan bunting, ”Dara..Dara...” Tak salahkah telinga gadis menerima pendengaran. Dara?. Sebab yang terbayang adalah sosok mungil lincah dan lugu, tengah dirayu Ragil yang ingusan. Mata rasio gadis menolak, tidak! Dara bukanlah perempuan yang kumal seperti ini, melainkan perempuan yang cantik dan pasti menarik. Sedesah perih tertahan di hati gadis mengeluh mengaduh. Ach.... perempuan, sekejam apakah dunia telah membuat dirimu jadi begini? Bunting begini tercecer di jalanan sunyi begini? Di manakah istana yang mestinya kau bangun dengan tawa dan air matamu? Di manakah dekap yang mestinya lindungimu dari rajam gigil kota angkuh ini? Gadis terkatup dalam ragu. Tak tahu apa yang kan diperbuat, tatkala malam pun lingsut dari khianatnya. Dara!
Copyright © Sinar Harapan 2002
| |